Wednesday, April 6, 2011

[ONWRITING] The Adventure Of Secret Medallions

This is my first fanfics about SHINee ... Enjoy :-)

Casts
Mayor :
-Park Ha Ra a.k.a. me
-Choi Minho ( SHINee ) - Charismatic Flame Minho
-Kim Kibum ( SHINee ) - The Almighty Key

Minor :
-Lee Jinki ( SHINee ) – Leader Onew
-Kim Jonghyun ( SHINee ) – Bling-Bling Jonghyun
-Lee Taemin ( SHINee ) – Maknae Taemin

Disclaimer : Park Ha Ra belongs to me ( mine ) and my parents. SHINee belongs to SM Entertainment. I do own the plot and the story. Please don’t sue me.

*******************************************************************

Chapter 1 - The Problem Was Appeared

Seoul, 15 Februari 2015

Spytective Headquarter

[ Ha Ra’s POV ]

“Aku mohon kepada kalian semua, ini menyangkut keamanan negara kita.”

“Dengan senang hati kami akan membantu anda, Mr. Lee Jinki,” kataku.

“Walaupun tugas ini cukup berat bagi kami, kami akan tetap berusaha sebaik mungkin untuk melaksanakannya,” ujar Minho.

“Lagipula, kami sudah lama tidak beraksi kembali. Kami sangat merindukan saat-saat seperti ini,” ujar Kibum seraya tersenyum.

“Geuraeyo. Tetapi aku ingatkan sekali lagi, kedua liontin itu bentuknya sama persis, yaitu berbentuk setengah lingkaran. Liontin tersebut terbuat dari bahan uranium dan dirancang secara khusus sehingga ketika digabungkan akan menjadi lingkaran utuh dan liontin tersebut dapat terbuka. Bagian yang sangat penting dari liontin itu adalah isinya, yaitu microchip yang berisi tentang semua dokumen-dokumen rahasia milik militer Korea Utara. Jika Korea Utara sampai tahu bahwa negara kita telah berhasil memata-matai seluruh kegiatan militer mereka … … … kalian tahu apa yang akan terjadi pada negara kita, Korea Selatan,” jelas Mr. Lee Jinki.

Arasseo, Mr. Lee Jinki. By the way, siapa saja pihak-pihak yang memiliki kedua liontin tersebut ?” tanya Minho.

“Pihak yang memiliki liontin tersebut adalah Mr. Shin Wantae dari militer Angkatan Laut Korea Selatan dan Mr. Seo Hyukji, Jendral Angkatan Udara militer Korea Selatan.”

“Geuraeyo, tuan. Kami akan berusaha untuk mengawasi mereka ke manapun mereka pergi,” kata Kibum.

“ Jeongmal gomabseumnida. Kalian bertiga sungguh hebat. Umur kalian baru 19 tahun, tetapi kalian sudah dapat menangani berbagai kasus penting. Aku bangga Korea Selatan dapat memiliki kalian bertiga, walaupun tidak seutuhnya.”

“Oh, anda tidak perlu memuji kami, Mr. Lee Jinki. Ini memang sudah menjadi tugas kami,” kataku.

Okay. Now, you’re handle this case, with high responsibility, of course. Annyeonghaseyo,” kata Mr. Lee Jinki.
“Cheonmaneyo. Annyeonghaseyo,” sahut kami bertiga serempak.

Mr. Lee Jinki berjalan meninggalkan kami dan bergegas keluar dari ruang tamu rumah kami.

“Oh, akhirnya kita mendapat kasus lagi. Aku senang kita bisa beraksi kembali,” kata Kibum seraya beranjak duduk di samping Minho.

“Ne, aku juga senang. Tetapi, sebenarnya aku mengharapkan sedikit peristiwa seru akan terjadi dalam kasus ini. Dengan begitu, kita dapat beraksi dengan lebih powerful ! I like it !” ucap Minho.

“Oh, jadi kau berharap akan ada orang yang mati, begitu ? Kalau itu yang kau harapkan, saat ini juga kau akan melihat seseorang akan mati,” ujar Kibum seraya menunjukkan senyuman misteriusnya.

“Jinjja ? Siapa yang akan mati?” tanya Minho penasaran.

“Kau yang akan mati!” kata Kibum.

Kedua namja itu pun saling meninju satu sama lain. Aku hanya tersenyum melihatnya.

Kim Kibum adalah seorang keturunan Korea Selatan-Amerika yang paling ramah dan menyenangkan di antara kami bertiga. Ia adalah yang paling tua di antara kami bertiga. Ia mempunyai tinggi sekitar 180 cm dan kulit yang putih. Rambutnya berwarna coklat kemerahan dan diponi ke bagian kanan. He is the most stylist among us. Ia juga selalu bisa mencairkan suasana tegang menjadi lebih ceria. Walaupun dia lebih tua dari kami bertiga, namun dia selalu terlihat lebih muda di antara kami.

Lain lagi dengan Choi Minho. Ia adalah seorang keturunan Korea Selatan-Jepang yang sangat pandai berolahraga. Ia adalah yang paling tinggi di antara kami. Bayangkan, tingginya mencapai 185 cm ! Kulitnya juga putih, sama seperti Kibum. Namun, rambutnya yang berwarna hitam kecoklatan itu membuatnya terlihat lebih keren dari Kibum. Walau begitu, ia termasuk orang yang pendiam dan lumayan serius juga. Hampir segala hal ia kerjakan dalam diam. Namun ketika mendengar sesuatu yang lucu, ia dapat tertawa layaknya orang yang santai. Padahal, sifatnya tidak seperti itu. Ialah orang yang paling dewasa di antara kami.

“Hei, kenapa kau menatap kami seperti itu?” tanya Minho tiba-tiba di tengah pertengkarannya dengan Kibum. Tangan Kibum yang sedang bergerak meninju lengan Minho pun terhenti seketika di udara.

Aku pun tersadar dari lamunanku. “Oh, ah, mmmmm……. gwaenchanha. Aku hanya sedang berpikir bahwa aku sangat beruntung bisa menjadi sahabat kalian,” kataku.

“Oh, kemarilah Ha Ra,” kata Kibum sambil menggandengku dan membawaku duduk di tengah-tengah antara dia dan Minho.

“You’re our best friend ever. Kau seorang yeoja keturunan Korea Selatan-Prancis-Indonesia yang paling baik yang pernah kutemui. Kau cantik, pintar, dan ramah. Aku senang dapat berteman denganmu,” ucap Kibum seraya mengalungkan lengannya di pundakku.

“Ne, kau selalu menyelesaikan berbagai kasus dengan metodemu yang cemerlang. Kami selalu kalah jika dibandingkan denganmu. Padahal umurmu baru 18 tahun !” seru Minho seraya mengalungkan lengannya di pundakku. Entah kenapa jantungku tiba-tiba berdetak lebih cepat.

“Geuraeyo. Aku terima semua pujian kalian dengan senang hati,” aku menambahkan tekanan dalam mengucapkan tiga kata terakhir.

“Oh, come on ! Kau jangan seperti itu. Aku tidak suka saat kau begitu. Kau seperti seorang nenek sihir, tahu !” kata Minho.

“Jinjja ? Kalau begitu rasakan ini !” aku meninju Minho. Tetapi, Minho sudah tidak ada di tempat. Dia telah berlari ke ujung ruangan sebelum aku berhasil meninjunya.

“Oh, kau pintar juga, ya ! Tapi kau tidak akan berhasil lari dariku !” kataku seraya mengejar Minho.

Kami pun berkejar-kejaran megelilingi ruangan. Aku sudah hampir menjangkau Minho. Tetapi, tiba-tiba Minho berhenti dan berbalik dan aku jatuh menabraknya.

“Mian….mian…. it was an acci….” aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku. Aku jatuh persis di atas badannya dan mataku bertemu dengan matanya. Aku merasa terhipnotis saat menatap matanya. Matanya hitam pekat dan bola matanya membentuk lingkaran sempurna. Itu membuatnya terlihat charismatic. Saat itu, aku merasa akan pingsan. Untung saja Kibum menyadarkanku.

“Hey, what are you doing there?”. Aku dan Minho pun segera berdiri. Aku yakin mukaku merah saat itu.

“Gwaenchanha. Hanya saja, tadi aku menabrak Minho. Mianhae, Minho. Aku tadi tidak sengaja. Oh, aku merasa sedikit lelah. Tak apa kan kalau aku tidur duluan?”

“Mullo. Sebaiknya memang kau tidur saja. Lagipula, saat ini sudah larut malam. Tak baik jika kau belum tidur juga. Lagipula, aku dan Kibum akan bercakap-cakap dahulu. Khusus di antara para namja. Annyeong, Ha Ra.”

“Ne. Annyeong, Minho.”

Aku pun beranjak menuju kamarku. Begitu sampai kamar, aku langsung menuju kamar mandi dan membasuh mukaku dengan air yang terasa sangat dingin. Setelah itu, aku naik ke tempat tidur sambil memikirkan peristiwa tadi.

“Aku dan Minho sudah bersahabat sejak SD, tetapi aku belum pernah merasa seperti ini sebelumya terhadap Minho. Sepertinya aku jatuh cinta pada Minho. Tadi saat dia mengalungkan lengannya di pundakku, jantungku berdebar. Dan saat aku menabrak Minho tadi, aku merasa sepertinya ada sesuatu yang lain dalam diri Minho. Oh, aniyo ! Kenapa aku jadi begini ? Aku tidak boleh jatuh cinta pada Minho. Aku tidak akan merusak persahabatan kami begitu saja. Ne, aku harus menahan perasaanku,” kataku dalam hati.

Setelah itu, aku pun tertidur dengan lelap. Tidak perlu ditebak lagi aku bermimpi tentang siapa … … .

*******************************************************************




[ Minho’s POV ]

“Ada apa dengan Ha Ra tadi ? Mengapa ia menjadi aneh ? Mengapa ia menatapku seperti itu ? Dan mengapa ia seperti merasa gugup saat berada di dekatku ?”

Pertanyaan itulah yang terus terlontar dalam pikiranku. Aku bingung harus menjawab semua pertanyaan itu. Maka, aku memutuskan untuk menanyakannya pada Kibum.

“Mungkin dia suka padamu Minho,” kata Kibum. “Biasanya para yeoja akan bertingkah seperti itu saat berhadapan dengan orang yang disukainya. Ne, sepertinya Ha Ra suka padamu.”

“Oh, impossible ! Ha Ra dan aku sudah bersahabat sejak kecil. Kalau ia suka padaku pun, seharusnya sudah dari dulu. Tidak, tidak mungkin !” kataku bersikeras.

“Minho, aku beri tahu, ya. Cinta itu tidak dapat ditebak kapan datangnya. Mungkin saja dia sudah menyukaimu dari dulu, tetapi baru sekarang ia menyadarinya. Saranku, lebih baik sekarang kau jangan berbuat apa-apa dulu. Bertingkahlah seperti biasa. Jika bukti-bukti yang ada sudah cukup kuat untuk membuktikan bahwa dia memang suka padamu, barulah kau bertindak. Arasseo ?”

“Arasseo, Kibum ( aku mengucapkannya dengan nada mengejek ). Tapi, maukah kau membantuku untuk mengumpulkan bukti-bukti itu?”

“Mullo ! Aku suka mengumpulkan bukti-bukti! By the way, mengapa kau menanyakan hal ini padaku ? Mmmm … . jangan-jangan kau juga suka pada Ha Ra, ya ? Ayo, mengaku sajalah !”

“Mullon animnida ! Tidak mungkin aku suka padanya ! Sudahlah, aku mau tidur !” kataku.
Aku berjalan menuju kamarku dan meninggalkan Kibum sendirian di ruang tamu. Aku langsung naik ke ranjang dan memikirkan kata-kata Kibum tadi.

“Apa mungkin Ha Ra suka padaku ? Tapi, kurasa tidak mungkin hal itu terjadi. Mungkin tadi ia hanya sedang lelah sehingga ia merasa sedikit gugup. Tapi, apa mungkin ? Oh, sudahlah. Ini saatnya tidur. Mengapa aku jadi memikirkan Ha Ra ? Lagipula, besok aku ada kuliah,” kataku dalam benakku.

Akhirnya, aku tertidur juga. Aku tidak tahu mengapa, tetapi malam itu aku memimpikan Ha Ra dan ia tersenyum padaku … … . .

*******************************************************************

No comments:

Post a Comment